(Last Updated On: April 9, 2018)

Pernah mendengar ungkapan Nasi Sudah Menjadi Bubur?

Nasi Sudah Menjadi Bubur Bukanlah Kiamat

Saat keterlanjuran sudah berlalu, kita sering mengatakan “Nasi sudah menjadi bubur”. Betulkah ungkapan ini? Atau sekedar mencari pembenaran untuk tidak memperbaiki yang sudah ada? Insya Allah setelah membaca cerita berikut, kita akan memiliki pandangan berbeda terhadap suatu keterlanjuran.

Nasi Sudah Menjadi Bubur

Nasi Sudah Menjadi Bubur? Memang Tidak Suka Bubur?

Seorang mahasiswa kuliahnya tidak serius. Kadang masuk kuliah kadang tidak, tugas terbengkalai, SKS yang harus dikejar masih banyak, dan jarang sekali belajar. Begitu ditanya ternyata dia merasa terjebak masuk ke jurusan yang dipilihnya karena dia hanya ikut-ikutan saja. Teman-temannya masuk jurusan tersebut, dia pun ikut.

“Mengapa kamu tidak pindah saja?” tanya temannya, Budi.

“Ah, biarlah, nasi sudah menjadi bubur” jawabnya, tidak peduli.

“Apakah kamu akan tetap seperti ini?”

“Mau gimana lagi, saya bilang nasi sudah jadi bubur, tidak bisa diperbaiki lagi.” jawabnya berargumen.

“Kalau kamu pindah kejurusan yang kamu sukai, kan kamu akan lebih enjoy.” kata temannya.

“Saya ini sudah tua, masa harus kuliah dari awal lagi. Saya terlambat menyadari kalau saya salah masuk jurusan.” jelasnya sambil merebahkan diri di kasur dan mengambil remote control TV-nya.

“Memang tidak ada yang bisa kamu lakukan lagi?” selidik temannya.

“Tidak, saya sudah katakan berulang-ulang nasi sudah jadi bubur.”

Nasi Sudah Menjadi Bubur Tidak Selama Jelek

Temannya pun diam sejenak, dia bingung melihat temannya yang sudah tidak semangat lagi. Kemudian dia teringat pada temannya yang memiliki nasib yang sama, salah memilih jurusan. Dia pun pulang ke rumahnya kemudian menelpon temannya tersebut.

“Jaka, perasaan kamu pernah cerita sama saya, kalau kamu salah memilih jurusan?” tanya Budi kepada Jaka.

“Memang saya salah memilih jurusan, memangnya kenapa?” jawab Jaka.

“Yang saya heran, kenapa kamu tetap semangat kuliah, sedangkan teman saya malah malas dan tidak serius kuliahnya.”

“Yah nggak tahu yah, saya juga dulu sempat seperti itu. Tapi sekarang sudah tidak lagi.” jelas Jaka.

“Apa sich resepnya?”

“Pertama saya merelakan diri masuk jurusan ini. Mungkin ini yang terbaik menurut Allah. Jadi saya terima saja.”

“Terus?” kata Budi bersemangat

“Yang kedua, saya mencari cara menggabungkan ilmu yang saya miliki dijurusan ini, dengan hobi saya. Ternyata saya menjadi enjoy saja. Memang, saya terlanjur memilih jurusan ini, kata orang, nasi sudah jadi bubur. Tetapi kalau saya, nasi sudah menjadi bubur ayam spesial yang enak dan lebih mahal harganya ketimbang nasi.”

“Oh gitu….”

“Yah, kalau kita menyesali tidak ada manfaatnya. Kalau kita berusaha mengubah bubur jadi nasi, itu tidak mungkin. Satu-satunya cara ialah membuat bubur tersebut menjadi lebih nikmat, saya tambahkan ayam, ampela, telor, dan bumbu. Rasanya enak dan lebih mahal” jelas Jaka sambil tersenyum lebar.

Semua Tergantung Anda Mau Memilih Makna Apa

Bukanlah kondisi yang menentukan, tetapi bagaimana Anda memberi makna terhadap kondisi tersebut. Cerita nasi sudah menjadi bubur, dua orang yang mengalami kondisi yang sama tetapi memberi makna yang berbeda.

Dari sana jelas, bukan keadaan yang membuat Anda semangat atau tidak semangat. Bukan juga kejadian yang membuat Anda termotivasi atau tidak. Yang penting adalah, bukan apa yang terjadi pada diri Anda, tetapi bagaimana Anda menyikapi dan memberi makna pada apa yang terjadi.

Sekarang, coba periksa kehidupan Anda. Bagaimana kondisi pikiran Anda saat ini? Apakah ada merasa tidak berdaya, tidak semangat, loyo, kecewa, dan sebagainya karena sesuatu kondisi atau peristiwa? Kemudian, cobalah pikirkan makna yang lain.

Anda bebas koq memberi makna. Anda boleh memilih makna, apakah akan memberdayakan diri Anda atau melemahkan diri Anda. Semua itu pilihannya ada di tangan Anda.

Pada kenyataanya, orang sukses lahir dari berbagai latar belakang. Orang sukses itu bisa orang yang sempurna atau memiliki keterbatasan fisik. Bisa dari negara mana  pun. Bisa dari warna kulit apa pun. Bisa datang dari keluarga miskin atau kaya.

Mereka yang tidak menyerah dan fokus menyalahkan kondisi. Tetapi mereka justru memilih memberikan makna yang positif terhadap kondisi mereka.

“Tidak punya modal uang” bisa saja sebuah situasi yang sedang Anda hadapi. Apa makna yang Anda berikan terhadap situasi ini. Anda bisa memilih makna bahwa Anda tidak bisa bisnis karena tidak punya modal. Terserah, itu pilihan Anda.

Namun Anda bisa memilih makna yang lain. Misalnya, saya tidak punya modal, artinya saya harus berpikir kreatif agar bisa memulai bisnis. Artinya saya harus menggunakan daya ungkit untuk mengoptimalkan potensi, aset dan sumber daya yang ada.

Anda lihat perbedaanya?

Cobalah Anda yang menentukan makna dan hikmah dari apa yang terjadi atau situasi Anda saat ini. Berpikirlah lebih jernih agar Anda bisa menemukan makna yang memberdayakan Anda, bukan melemahkan Anda.

Rahmat Mr. Power

Penulis atau Author berbagai produk Pengembangan Diri: Berpikir Positif, Percaya Diri, Kreativitas, Produktivitas, Motivasi, dan Bisnis selengkapnya http://www.zonasukses.club/

Latest posts by Rahmat Mr. Power (see all)





Sumber : https://www.motivasi-islami.com/nasi-sudah-menjadi-bubur/